Aqidah Imam Yang Empat

Segala puji bagi Allah,kepadaNya kita memuji,meminta pertolongan,petunjuk dan ampunan.Kita berlindung kepadaNya dari kejahatan jiwa dan keburukan perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah,maka tidak ada seorang pun yang menyesatkannya. Dan siapa yang disesatkan oleh Allah,maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. 

Saya bersaksi bahawa tidak ada tuhan (berhak disembah) selain Allah,Yang Maha Esa,dan tidak ada sekutu bagiNya.Dan saya bersaksi bahawa Muhammad (s.a.w) adalah hamba Allah dan utusanNya.
Allah berfirman : 

((Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu.Siapa yang taat kepada Allah dan rasulNya,maka ia benar-benar akan memperoleh keberuntungan yang besar)) – Al-Ahzab ( 70 – 71 )
Amma ba’du…

KESAMAAN AQIDAH IMAM EMPAT

Aqidah Imam Empat, Abu Hanifah, Malik, Syafie dan Ahmad r.h, adalah seperti yang dituturkan oleh Al-Quran As-Sunnah,sesuai dengan apa yang menjadi pegangan para sahabat dan tabi’in.Tidak ada perbezaan diantara mereka dalam masalah usuluddin. Mereka sepakat beriman terhadap sifat-sifat Allah,bahwa Al-Quran itu Kalam Allah bukan makhluk,dan bahwa iman itu memerlukan pembenaran dalam hati dan lisan.

Mereka juga mengingkari para ahli kalam,seperti kelompok Jahmiah dan lain-lain yang terpengaruh dengan falsafah Yunani dan aliran-aliran kalam.

Sheikhul islam Ibnu Taimiah berkata "…Namun rahmat Allah kepada hambaNya menghendaki bahwa para Imam yang menjadi ikutan umat seperti Imam mazhab empat dan lain-lain,mereka mengingkari para ahli kalam seperti kelompok Jahmiah dalam masalah AL-Quran,dan tentang beriman kepada sifat-sifat Allah.Mereka sepakat seperti keyakinan para ulamak salaf,dimana antara lain,bahwa Allah itu dapat dilihat diakhirat, AL-Quran adalah Kalam Allah bukan makhluk,dan bahwa iman itu memerlukan pembenaran dalam hati dan lisan." –kitab Al-Iman

Katanya lagi "Para Imam yang masyhur itu juga menetapkan tentang adanya sifat-sifat Allah.Mereka mengatakan bahwa Al-Quran itu Kalam Allah bukan makhluk,Dan bahwa Allah itu akan dapat dilihat diakhirat.Inilah mazhab para sahabat dan tabi’in,baik yang termasuk ahlul bait dan yang lain.Dan ini juga mazhab para Imam yang banyak penganutnya,seperti Imam Malik bin Anas,Imam Ats-Tsauri,Imam Al-Laith bin Saad, Imam Al-Auza’I,Imam Abu Hanifah,Imam Syafie dan Imam Ahmad." – kitab Manhaj As-Sunnah

Imam Ibnu Taimiah juga pernah ditanya tentang aqidah Imam Syafie r.h. Jawab beliau "Aqidah Imam Syafie dan aqidah para ulamak salaf seperti Imam Malik,Imam Ats-Tsauri, Imam Al-Auza’I, Imam Ibnu Al-Mubarak, Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ishaq bin Rahawaih adalah seperti aqidah para Imam anutan umat yang lain,seperti Imam Al-Fudhail bin Iyadh, Imam Abu Sulaiman Ad-Darani, Sahl bin Abdullah At-Tusturi dan lain-lain. Mereka tidak berbeza pendapat dalam Usuluddin.Begitu pula Imam Abu Hanifah,aqidah tetap beliau dalam masalah tauhid,qadar dan sebagainya adalah sama dengan aqidah para Imam tersebut diatas.Dan aqidah para Imam itu adalah sama dengan aqidah para sahabat dan tabi’in,iaitu sesuai dengan apa yang dituturkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah." – kitab Majmu’ Al-Fatawa

Aqidah inilah yang dipilih oleh Al-Allamah Shadiq Hasan Khan,dimana beliau berkata "Mazhab kami adalah mazhab ulamak salaf,iaitu menetapkan adanya sifat-sifat Allah tanpa menyerupakanNya dengan sifat makhluk,dan menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan tanpa ta’thil (meniadakan makna dari ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah).Mazhab tersebut adalah mazhab Imam-imam dalam Islam,seperti Imam Malik bin Anas, Imam Syafie, Imam Ats-Tsauri, Imam Ibnu Al-Mubarak, Imam Ahmad dan lain-lain.Mereka tidak berbeza pendapat dalam masalah Usuluddin.Begitu pula Imam Abu Hanifah r.h,beliau sama aqidahnya dengan para Imam diatas,iaitu aqidah yang sesuai dengan apa yang dituturkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah." – kitab Qathf Ats-Tsamar

AQIDAH IMAM ABU HANIFAH

A. Pendapat Imam Abu Hanifah tentang masalah tauhid

Pertama :
Aqidah beliau tentang tauhid (pengesaan Allah) dan tentang tawassul syar’i serta kebatilan tawassul bid’i.
  1. Imam Abu Hanifah berkata “Tidak pantas bagi seseorang untuk berdoa kepada Allah kecuali dengan Asma’ Allah.Adapun doa yang diizinkan dan diperintahkan adalah keterangan yang terambil dari firman Allah :

    ((Dan bagi (milik) Allahlah nama-nama yang bagus (Asma’ul Husna) maka berdoalah kamu dengan menyebut Asma-asma itu,dan tinggalkanlah orang-orang yang ilhad (menyimpang) kepada Asma’-asma’ Allah.Mereka akan diberi balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.)) Al-A’raf ( 180 )

    [Kitab Ad-Durr Al-Mukhtar Ma’a Hasyiyat Radd Al-Mukhtar ]
     
  2. Imam Abu Hanifah berkata “Makruh hukumnya seseorang berdoa dengan mengatakan; Saya pohon kepadamu berdasarkan hak si Fulan,atau berdasarkan hak para nabiMu,atau berdasarkan hak Al-Bait Al-Haram dan Al-Masy’ar Al-Haram.” [kitab Syarh Al-Aqidah At-Tohawiyah, Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin, Syarh Al-Fiqh Al-Akbar ]
     
  3. Imam Abu Hanifah berkata “Tidak pantas seseorang berdoa kepada Allah kecuali dengan menyebut Asma’ Allah. Dan saya tidak suka bila ada orang berdoa seraya menyebutkan ;dengan sifat-sifat kemuliaan pada arasyMu”, atau dengan menyebutkan ;dengan hak makhlukMu” [kitab At-Tawassul Wal Wasilah, Syarh Al-Fiqh Al-Akbar ]
Kedua :
Pendapat Imam Abu Hanifah tentang penetapan sifat-sifat Allah dan bantahan terhadap golongan Jahmiah.
  1. Imam Abu Hanifah berkata “Allah tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk. Murka dan redha Allah adalah dua dari sifat-sifat Allah yang tidak dapat diketahui keadaannya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Allah murka dan redha. Namun tidak dapat dikatakan bahwa murka Allah itu adalah siksaNya dan redha Allah itu adalah pahalaNya. Kita mensifati Allah sebagaimana Allah mensifati diriNya sendiri. Allah adalah Esa,Zat yang kepadaNya para hamba memohon,tidak melahirkan dan tidak dilahirkan,dan tidak ada satu pun yang menyamaiNya. Allah juga hidup,berkuasa,melihat dan mengetahui. Tangan Allah diatas tangan-tangan mereka yang menyatakan janji setia kepada Rasul. Tangan Allah tidak seperti tangan makhlukNya. Wajah Allah tidak seperti wajah-wajah makhlukNya.
     
  2. Imam Abu Hanifah berkata “Allah juga memiliki tangan,wajah dan diri seperti disebutkan sendiri oleh Allah dalam Al-Quran. Maka apa yang disebutkan oleh Allah tentang wajah,tangan dan diri menunjukkan bahwa Allah mempunyai sifat yang tidak boleh direka-reka bentuknya. Dan juga tidak boleh disebutkan bahwa tangan Allah itu ertinya kekuasaanNya atau nikmatNya, kerana hal itu bererti meniadakan sifat-sifat Allah sebagaimana pendapat yang dipegang ahli qadar dan golongan Muktazilah. [kitab Al-Fiqh Al-Akbar ]
     
  3. Imam Abu Hanifah juga berkata “Tidaklah pantas bagi seseorang untuk berbicara tentang Zat Allah. Tetapi hendaknya ia mensifati Allah dengan sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah sendiri. Ia tidak boleh berbicara tentang Allah dengan pendapatnya sendiri. Maha Suci Allah Rabbul Alamin.” [kitab Syarh Al-Aqidah At-Tohawiyah ]
     
  4. Ketika ditanya tentang turunnya Allah,Imam Abu Hanifah menjawab “Allah itu turun tanpa cara-cara seperti halnya turunnya makhluk.” [kitab Aqidah As-Salaf Ashhab Al-Hadis, Al-Asma’ Wa As-Sifat, Syarh Al-Aqidah At-Tohawiyah, Syarh Al-Fiqh Al-Akbar ]
     
  5. Beliau juga berkata “Dalam berdoa kepada Allah,kita memanjatkan doa keatas, bukan kebawah,kerana bawah tidak mengandungi sifat Rububiyah dan Uluhiyah sedikit pun.” [kitab Al-Fiqh Al-Absath ]
     
  6. Beliau juga berkata “Allah tidak serupa dengan makhlukNya, dan makhlukNya juga tidak serupa dengan Allah. Allah itu tetap akan selalu memiliki nama-nama dan sifat-sifatNya.” [kitab Al-Fiqh Al-Akbar ]
     
  7. Beliau juga berkata “Sifat-sifat Allah itu berbeza dengan sifat-sifat makhluk. Allah itu mengetahui tetapi tidak seperti mengetahuinya makhluk. Allah itu mampu (berkuasa) tetapi tidak seperti mampunya (berkuasanya) makhluk. Allah itu melihat tetapi tidak seperti melihatnya makhluk. Allah itu mendengar tetapi tidak seperti mendengarnya makhluk. Dan Allah itu berbicara tetapi tidak seperti berbicaranya makhluk.” [kitab Al-Fiqh Al-Akbar ]
     
  8. Beliau juga berkata “Allah tidak boleh disifati dengan sifat-sifat makhluk.” [kitab Al-Fiqh Al-Absath ]
     
  9. Beliau berkata “Siapa yang mensifati Allah dengan sifat-sifat manusia,maka ia telah kafir.” [kitab Al-Aqidah At-Tohawiyah ]
     
  10. Beliau juga berkata “Allah memiliki sifat-sifat dzatiyah dan fi’liyah. Sifat-sifat dzatiyah Allah adalah hayah (hidup),qudrah (mampu), ilmu (mengetahui), sama’ (mendengar), bashar (melihat), dan iradah (kehendak). Sedangkan sifat-sifat fi’liyah Allah adalah menciptakan,memberi rezeki,membuat dan lain-lain yang berkaitan dengan sifat perbuatan. Allah tetap dan selalu memiliki asma’-asma’ dan sifat-sifatNya. [kitab Al-Fiqh Al-Akbar ]
     
  11. Beliau juga berkata “Allah tetap melakukan (berbuat) sesuatu. Dan melakukan (berbuat) itu merupakan sifat azali. Yang melakukan (berbuat) adalah Allah, yang dilakukan (objeknya) adalah makhluk dan perbuatan Allah bukanlah makhluk.” [kitab Ibid]
     
  12. Beliau juga berkata “Siapa yang berkata;Saya tidak tahu Tuhanku itu dimana,dilangit atau dibumi; maka orang tersebut telah kafir. Demikian pula orang yang berkata ;Tuhanku itu diatas arsy. Tetapi saya tidak tahu arsy itu dilangit atau dibumi.” [kitab Al-Fiqh Al-Absath, Majmu’ AL-Fatawa (Ibnu Taimiah), Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiah (Ibnul Qaiyim), Al-‘Uluw (Az-Zahabi), dan Syarh Al-Aqidah At-Tohawiyah (Ibnu Abi Al-Izz) ]
     
  13. Ketika ada seorang wanita bertanya kepada beliau “Dimana Tuhan anda yang anda sembah itu? Beliau menjawab :Allah SWT ada dilangit tidak dibumi.” Kemudian ada seorang bertanya “Tahukah anda bahwa Allah berfirman ((Dan Dia (Allah) itu bersama-sama kamu)) Al-Hadid ( 4 )?” Beliau menjawab “Ungkapan itu seperti kamu menulis surat kepada seseorang, “Saya akan selalu bersamamu”, padahal kamu jauh darinya” [kitab Al-Asma’ Wa As-Sifat ]
     
  14. Beliau juga berkata “Demikian pula tentang tangan Allah diatas tangan-tangan mereka yang menyatakan janji setia kepada rasul,tangan Allah itu tidak sama dengan tangan makhluk” [kitab Al-Fiqh Al-Absath ]
     
  15. Beliau juga berkata “Bahwa Allah itu mempunyai sifat kalam (berfirman) sebelom Allah berfirman kepada nabi Musa a.s” [kitab Al-Fiqh Al-Akbar ]
     
  16. Kata beliau “Allah berfirman dengan kalamNya, dan kalamNya adalah sifat azali” [kitab Ibid ]
     
  17. Beliau berkata lagi “Allah itu berbicara, tetapi tidak seperti berbicaranya kita” [kitab Ibid ]
     
  18. Kata beliau “Nabi Musa a.s itu mendengar kalam Allah sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Allah ((Dan Allah telah berkata-kata kepada Musa dengan sebenarnya)) An-Nisa’ ( 164 ) Allah telah berfirman dan tetap akan berfirman,Allah tidak hanya berfirman kepada nabi Musa sahaja” [kitab Al-Fiqh Al-Akbar ]
     
  19. Beliau berkata “AlQuran itu kalam Allah,tertulis didalam mushhaf dan tersimpan (terjaga) didalam hati,terbaca oleh lisan dan diturunkan kepada nabi Muhammad s.a.w” [kitab Ibid ]
     
  20. Kata beliau lagi “AlQuran itu bukan makhluk” [kitab Ibid ]

B. Pendapat Imam Abu Hanifah Tentang Qadar

  1. Seorang datang kepada Imam Abu Hanifah dan mendebat beliau tentang masalah qadar. Kata beliau “Tahukah anda,bahwa orang yang melihat masalah matahari dengan matanya,semakin lama ia melihat,ia makin bingung” [kitab Qalaid ‘Uqud Al-Aqyan ]
     
  2. Beliau berkata “Allah telah mengetahui segala sesuatu sejak masa azali,sebelom segala sesuatu itu terwujud” [kitab Al-Fiqh Al-Akbar]
     
  3. Beliau juga berkata “Allah juga mengetahui sesuatu yang tidak ada ketika hal itu tidak ada, dan Allah juga mengetahui bagaimana hal itu akan ada apabila Allah mewujudkannya. Allah juga mengetahui sesuatu yang ada ketika hal itu ada,dan Allah juga mengetahui bagaimana kehancuran sesuatu itu” [kitab Ibid ]
     
  4. Imam Abu Hanifah berkata “Taqdir Allah adalah diLauh Mahfuzh” [kitab Ibid ]
     
  5. Beliau juga berkata “Kita menetapkan,bahwa Allah telah memerintahkan kepada Al-Qalam dan ia berkata “Apa yang akan saya tulis wahai Tuhanku?” Allah menjawab “Tulislah apa yang ada dan terjadi sampai hari kiamat.” Hal ini berdasarkan firman Allah ((Segala sesuatu yang mereka lakukan tertulis didalam Al-Kitab. Dan segala yang kecil dan besar tertulis)) Al-Qamar ( 52 – 53 ) [kitab Al-Washiyah bersama Syarhnya ]
     
  6. Beliau juga berkata “Didunia dan akhirat tidaklah ada dan terjadi sesuatu kecuali berdasarkan kehendak Allah” [kitab Al-Fiqh Al-Akbar]
     
  7. Beliau juga berkata “Allah adalah Maha Pencipta sebelom Dia menciptakan”
     
  8. Beliau juga berkata “Kita menetapkan,bahwa hamba bersama amal-amalnya. Penetapannya dan pengetahuannya adalah makhluk. Apabila yang berbuat saja makhluk,maka perbuatan-perbuatannya lebih tepat untuk disebut makhluk”
     
  9. Beliau berkata lagi “Semua perbuatan hamba,baik bergerak atau diam,merupakan usahanya, dan Allah yang menciptakannya. Semua perbuatan itu berdasarkan kehendak,pengetahuan,penetapan dan qadar Allah.”
     
  10. Beliau berkata “Semua perbuatan hamba,baik bergerak maupun diam,adalah betul-betul upaya mereka, dan Allah menciptakannya. Semua perbuatan itu berdasarkan kehendak,ilmu,penetapan dan qadar Allah. Semua ketaatan adalah wajib berdasarkan perintah Allah, dan hal itu disukai, diredhai, dikehendaki, ditetapkan, dan ditaqdirkan oleh Allah. Sedangkan maksiat semuanya diketahui, ditetapkan,ditaqdirkan Allah dan dikehendaki oleh Allah,tetapi Allah tidak menyukai dan tidak meredhai hal itu,bahkan Allah juga tidak memerintahkannya.” [kitab Ibid ]
     
  11. Beliau juga berkata “Allah menciptakan makhluk berdasarkan fitrahnya, suci dari perbuatan yang terlarang. Kemudian Allah menyuruh mereka untuk berbuat kebajikan dan melarang dari berbuat yang cela. Maka diantara mereka kemudian ada yang kafir dengan melakukan perbuatan-perbuatan kekafiran dan mengingkari kebenaran (hak). Ada juga diantara mereka yang beriman, baik melalui perbuatannya, iqrar lisannya, dan pembenaran hatinya. Dan hal itu merupakan taufiq dan pertolongan Allah kepadanya.” [kitab Ibid ]
     
  12. Beliau juga berkata “Allah telah mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang sulbinya dalam bentul sel-sel, kemudian mereka diberi akal, lalu Allah menyuruh mereka untuk beriman dan melarang mereka dari kekafiran. Kemudian mereka mengakui ketuhanan (rububiyah) Allah. Maka hal itu merupakan iman mereka. Kemudian mereka dilahirkan berdasarkan fitrah tersebut. Karenanya, sebenarnya ia telah mengubah dan mengganti fitrah itu. Sedangkan orang yang beriman dengan penuh keyakinan hatinya, maka ia tetap berada dalam fitrah tersebut.” [kitab Ibid ]
     
  13. Beliau juga berkata “Allah tidak memaksa seorang pun dari makhlukNya untuk menjadi kafir atau mukmin. Tetapi Allah menciptakan mereka menjadi orang-orang. Sementara beriman atau menjadi kafir itu adalah perbuatan hamba. Allah mengetahui orang yang kafir pada saat ia kafir. Manakala setelah itu ia beriman,Allah juga mengetahuinya dan dia akan dicintai Allah. Dan ilmu Allah tidak berubah.” [kitab Ibid ]
     

C. Pendapat Imam Abu Hanifah Tentang Sahabat

  1. Imam Abu Hanifah berkata “Kita tidak boleh menyebutkan seorang pun dari sahabat nabi s.a.w kecuali dengan sebutan baik.” [kitab Al-Fiqh Al-Akbar ]
     
  2. Kata beliau juga “Kita juga tidak boleh berlepas diri dari salah satu sahabat nabi s.a.w, dan tidak boleh pula mencintai yang satu dan mengesampingkan yang lain” [kitab Al-Fiqh Al-Absath ]
     
  3. Beliau juga berkata “Keberadaan salah seorang sahabat bersama nabi s.a.w sesaat saja, hal itu lebih bagus daripada amal kita sepanjang umur,meskipun umur itu panjang.” [kitab Al-Makki,Manaqib Abi Hanifah ]
     
  4. Kata beliau lagi “Kita menetapkan,bahwa diantara umat Islam ini,orang yang paling mulia sesudah nabi s.a.w adalah Abu Bakar As-Siddiq, kemudian Umar, kemudian Usman dan kemudian Ali radhiyallahu ‘anhum.” [kitab Al-Washiyah bersama Syarhnya]
     
  5. Beliau berkata “Manusia paling mulia setelah nabi s.a.w adalah Abu Bakar,kemudian Umar,kemudian Usman dan kemudian Ali. Selanjutnya kita tidak boleh membicarakan tentang para sahabat kecuali yang baik-baik saja.” [kitab An-Nur Al-Lami’]

D. Larangan Imam Abu Hanifah Terhadap Ilmu Kalam Dan Berdebat Dalam Masalah Agama

  1. Imam Abu Hanifah berkata “Dikota Bashrah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu sangat banyak. Saya dating ke Bashrah lebih dari dua puluh kali. Terkadang saya tinggal diBashrah lebih dari satu tahun,terkadang satu tahun, dan terkadang kurang dari satu tahun. Hal itu kerana saya mengira bahwa Ilmu Kalam itu adalah ilmu yang paling mulia.” [Al-Kurdi,Manaqib Abi Hanifah]
     
  2. Beliau menuturkan “Saya pernah mendalami ilmu kalam, sampai saya tergolong manusia langka dalam ilmu kalam. Suatu saat saya tinggal dekat tempat pengajian Hammad bin Abu Sulaiman. Lalu ada seorang wanita datang kepadaku,ia berkata “Ada seorang lelaki mempunyai seorang isteri wanita sahaya. Lelaki itu ingin menalaknya dengan talak yang sesuai sunnah. Berapakah dia harus menalaknya?” Pada saat itu saya tidak tahu apa yang harus saya jawab. Saya hanya menyarankan agar ia datang ke Hammad untuk bertanyakan hal itu,kemudian kembali lagi kepada saya untuk memberitahu apa jawaban Hammad. Ternyata Hammad menjawab “Lelaki itu dapat menalaknya ketika isterinya dalam keadaan suci dari haid dan juga tidak dilakukan hubungan jima’, dengan satu kali talak sahaja. Kemudian isterinya dibiarkan sampai haid dua kali. Apabila isteri itu sudah suci lagi,maka ia hala untuk dinikahi.” Begitulah wanita tadi datang lagi kepada saya dan memberitahukan jawaban Hammad tadi. Akhirnya saya berkesimpulan “Saya tidak perlu lagi mempelajari ilmu kalam. Saya ambil sandalku dan pergi untuk berguru kepada Hammad.” [kitab Tarikh Baghdad ]
     
  3. Beliau berkata lagi “Semoga Allah melaknati Amr bin Ubaid,kerana telah merintis jalan untuk orang-orang yang mempelajari ilmu kalam,padahal ilmu ini tidak ada gunanya bagi mereka.” Beliau jiga pernah ditanya seseorang “Apakah pendapat anda tentang masalah baru yang dibicarakan orang-orang dalam ilmu kalam,iaitu masalah sifat-sifat dan jism?” Beliau menjawab “Itu adalah ucapan-ucapan para ahli filsafat. Kamu harus mengikuti hadis nabi s.a.w dan metode para ulamak salaf. Jauhilah setiap hal yang baru,kerana hal itu adalah bid’ah.” [Al-Harawi,Dzamm ‘Ilm Al-Kalam ]
     
  4. Kepada Abu Yusuf, Imam Abu Hanifah berkata “Janganlah sekali-kali kamu berbicara kepada orang-orang awam dalam masalah Ushuluddin dengan mengambil pendapat ilmu kalam,kerana mereka akan mengikuti kamu dan akan merepotkan kamu.” [kitab Ibid ]
     

comment 0 komentar:

Posting Komentar

Delete this element to display blogger navbar